Kanwil Ditjenpas Kalsel Luncurkan SIGAP PAS, Lapas Banjarbaru Jadi Pilot Project Kesiapsiagaan Bencana
Newsindonesia – Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kalimantan Selatan, Erwedi Supriyatno, membuka Pelatihan Strategi Kesiapsiagaan Kebencanaan di Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan (SIGAP PAS) Kalimantan Selatan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Banjarbaru, Selasa (29/7).
Erwedi menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan kebutuhan mendesak bagi seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan, mengingat bencana dapat terjadi sewaktu-waktu dan memberikan dampak besar terhadap keselamatan manusia maupun keberlangsungan pelaksanaan tugas.
“Dalam konteks Pemasyarakatan, kesiapsiagaan menghadapi bencana memiliki tantangan tersendiri. UPT Pemasyarakatan merupakan lingkungan khusus yang di dalamnya terdapat warga binaan dengan keterbatasan untuk melakukan evakuasi secara mandiri. Karena itu, kita harus memiliki kesiapan personel, prosedur yang jelas, sarana prasarana yang memadai, serta koordinasi yang kuat,” tegasnya.
Erwedi menjelaskan bahwa SIGAP PAS hadir sebagai strategi untuk memperkuat kesiapsiagaan kebencanaan di lingkungan Pemasyarakatan Kalimantan Selatan, khususnya dalam menghadapi potensi banjir, kebakaran, tanah longsor, cuaca ekstrem, maupun kondisi darurat lainnya.
Pada kesempatan tersebut, Erwedi juga menetapkan Lapas Banjarbaru sebagai pilot project penerapan SIGAP PAS yang digagas Kepala Bidang Perawatan Pengamanan dan Kepatuhan Internal, Isnawan, di lingkungan Pemasyarakatan Kalimantan Selatan.
“Kegiatan yang kita laksanakan hari ini merupakan langkah awal yang penting, karena Lapas Banjarbaru kita jadikan sebagai proyek percontohan dalam penerapan strategi kesiapsiagaan kebencanaan di lingkungan Pemasyarakatan Kalimantan Selatan,” ujarnya.
Menurutnya, pilot project tersebut akan menjadi ruang untuk menguji dan menyempurnakan sistem kesiapsiagaan, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, pemetaan potensi risiko, mekanisme penanganan keadaan darurat, hingga kesiapan sarana dan prasarana pendukung. Hasil evaluasi nantinya diharapkan dapat menjadi model yang dikembangkan secara bertahap pada seluruh UPT Pemasyarakatan di Kalimantan Selatan dengan menyesuaikan karakteristik risiko di masing-masing wilayah.
Erwedi turut mengapresiasi sinergi yang terjalin antara Kanwil Ditjenpas Kalimantan Selatan dan BPBD Provinsi Kalimantan Selatan dalam mendukung peningkatan kapasitas kesiapsiagaan kebencanaan.
“Kolaborasi seperti ini sangat penting, karena kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana membutuhkan kerja sama lintas sektor. Saya berharap hasil pelatihan ini tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi benar-benar diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Banjarbaru, I Made Supartana, menyampaikan komitmennya untuk mendukung penuh implementasi SIGAP PAS sebagai bagian dari upaya membangun budaya kesiapsiagaan yang terukur dan berkelanjutan di lingkungan Lapas.
“Pelatihan SIGAP PAS dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan petugas dalam menghadapi situasi darurat, termasuk prosedur evakuasi, koordinasi lintas instansi, mitigasi risiko, serta penanganan awal ketika terjadi bencana,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, menyambut baik pelaksanaan SIGAP PAS sebagai langkah strategis dalam membangun kesiapsiagaan kebencanaan di lingkungan Pemasyarakatan.
“Kami mengapresiasi inisiatif Kanwil Ditjenpas Kalimantan Selatan yang menjadikan kesiapsiagaan bencana sebagai prioritas bersama. Lingkungan Pemasyarakatan memiliki karakteristik khusus sehingga membutuhkan perencanaan, prosedur, dan koordinasi yang matang. BPBD Provinsi Kalimantan Selatan siap mendukung melalui pelatihan, simulasi, pendampingan teknis, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia agar seluruh UPT Pemasyarakatan memiliki kemampuan yang memadai dalam menghadapi berbagai potensi bencana,” ujarnya.
