Vibe Coding: Cara Baru Membuat Software dengan Mengarahkan AI, Ini Cara Kerja dan Jebakannya
Newsindonesia.com - Istilah vibe coding makin sering terdengar di kalangan pegiat teknologi. Istilah yang dipopulerkan peneliti AI Andrej Karpathy pada awal 2025 ini merujuk pada cara membangun perangkat lunak dengan mengarahkan AI menggunakan bahasa sehari-hari, alih-alih mengetik setiap baris kode secara manual.
Sebagian programmer memandangnya sinis. Namun bagi sebagian lainnya, vibe coding membuka pintu bagi orang yang selama ini merasa pembuatan software bukan dunia mereka.
Peran yang berubah: dari pengetik ke pengarah
Tegar Prayuda, builder AI-native asal Bogor, termasuk yang bekerja sepenuhnya dengan pendekatan ini. Dalam tulisannya tentang vibe coding, ia menggambarkan perannya lebih mirip manajer proyek sekaligus arsitek: menentukan apa yang dibangun, memecahnya menjadi bagian-bagian yang jelas, memberi arahan spesifik, lalu memeriksa hasilnya secara kritis.
Kode ditulis oleh AI, tetapi keputusan tetap berada di tangan manusia. Pembagian peran inilah yang ia pakai saat membangun situs pribadinya, sebuah platform personal all-in-one yang memuat portofolio, blog, link-bio, buku tamu, newsletter, dan panel admin dalam dua bahasa.
Bukan berarti terima jadi
Kesalahpahaman terbesar tentang vibe coding adalah anggapan bahwa pengguna cukup meminta lalu menerima hasil tanpa berpikir. Kenyataannya justru sebaliknya. Ada tiga jebakan yang sering muncul.
Pertama, arahan yang kabur menghasilkan produk yang kabur. Perintah seperti "buatkan situs yang bagus" cenderung menghasilkan sesuatu yang serba standar. Semakin spesifik selera dan kebutuhan yang dijelaskan, semakin spesifik pula hasilnya.
Kedua, pemahaman dasar tetap diperlukan. Pengguna tidak harus mampu menulis kode, tetapi perlu cukup paham untuk mengenali kapan hasil AI melenceng dan untuk bertanya dengan istilah yang tepat.
Ketiga, verifikasi wajib dilakukan. Meminta AI membuat pengujian otomatis dan memeriksa hasil akhir secara langsung adalah kebiasaan yang tidak bisa ditawar. Kepercayaan pada alat itu baik, tetapi bukti jauh lebih penting.
Keterampilan inti yang baru
Jika dulu keterampilan utama seorang pembuat software adalah menguasai sintaks dan framework, kini fokusnya bergeser ke kemampuan berpikir jernih: tahu persis apa yang diinginkan, mampu menjelaskannya, dan berani mengambil keputusan.
Tegar mengibaratkannya dengan alat bantu di profesi lain. Petani memakai traktor, akuntan memakai spreadsheet, dan pembuat produk digital masa kini memakai AI. Menggunakan alat bantu, dalam pandangannya, bukan bentuk kecurangan, melainkan cara bekerja dengan cerdas.
Tips memulai vibe coding
Bagi pemula yang tertarik mencoba, beberapa langkah berikut bisa menjadi titik awal:
Mulai dari proyek kecil yang jelas tujuannya, misalnya halaman profil atau alat hitung sederhana.
Tulis kebutuhan sedetail mungkin sebelum meminta AI mengerjakan apa pun.
Pelajari dasar-dasar cara kerja web agar bisa menilai hasil.
Minta AI menjelaskan kode yang dibuatnya, sehingga proses ini sekaligus menjadi sarana belajar.
Uji setiap fitur secara langsung sebelum menganggapnya selesai.
Vibe coding memang tidak menghapus kebutuhan akan keahlian. Ia hanya memindahkan titik beratnya: dari kecepatan mengetik ke kejernihan berpikir. Kabar baiknya, kemampuan berpikir jernih bisa dilatih oleh siapa saja.
