Titiek Soeharto Turut Mengunjungi Tempat Pengolahan Pupuk Organik Dalam Rangkaian Kegiatan di Nusakambangan
NUSAKAMBANGAN, INFO_PAS – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau yang akrab disapa Titiek Soeharto melakukan kunjungan kerja di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Sabtu (21/06/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk melihat program ketahanan pangan serta pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang telah dikembangan di pulau penjara ini.
Titiek yang didampingi Kepala Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto, Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi, Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko, dan Plt. Bupati Cilacap Ammy Amalia Fatma Surya, melihat aktivitas narapidana di workshop batako dan paving block, peternakan unggas baik ayam maupun bebek petelur, persawahan, serta Balai Latihan Kerja (BLK) pengolahan pupuk organik, budidaya ikan sidat dan pengolahan sampah.
Apresiasi tinggi diberikan Titiek kepada Menteri Agus beserta jajarannya yang telah berhasil menyulap lahan tidur di Pulau Nusakambangan menjadi lahan produktif dan membangun BLK. Selain meningkatkan ketahanan pangan sesuai dengan intruksi Presiden RI, pelatihan dan pengembangan keterampilan ini sangat bermanfaat untuk para napi sehingga bisa menjadi bekal saat kembali ke masyarakat nantinya.
“Pulau yang memiliki image seram ternyata bisa menjadi friendly dan menghasilkan banyak produk yang bermanfaat. Semoga hal ini bisa diduplikasi dan diaplikasikan oleh Kementerian lainnya, terutama Kementerian yang berkaitan dengan ketahanan pangan”, ungkap Titiek.
Agus menjelaskan, rencana menghidupkan kembali lahan yang tidur tidak hanya merupakan upaya untuk mendukung program pemerintah tetapi juga bertujuan untuk mencegah inflasi dan menjaga stabilitas harga di pasar. Hingga saat ini, pihaknya telah memanfaatkan sekitar 135 hektar lahan produktif di Pulau Nusakambangan dan melibatkan ratusan warga binaan dari seluruh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dalam berbagai sektor usaha.
Dalam kesempatan tersebut, rombongan juga berdialog dengan warga binaan yang terlibat langsung dalam proses produksi. Mereka memperoleh pelatihan mulai dari pengumpulan bahan baku, proses fermentasi, pengemasan hingga pemasaran produk, sehingga memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan sebagai bekal setelah kembali ke masyarakat.
Kepala Lapas Kelas I Batu Nusakambangan, Irfan menyampaikan bahwa pengolahan pupuk organik merupakan salah satu program pembinaan unggulan yang mengintegrasikan aspek pembinaan, pelestarian lingkungan, dan penguatan ketahanan pangan nasional.
"Program pengolahan pupuk organik ini merupakan wujud pembinaan yang produktif dan berkelanjutan. Kami tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis kepada warga binaan, tetapi juga membangun pola pikir tentang pentingnya pengelolaan limbah, pertanian ramah lingkungan, dan kewirausahaan. Hasil produksi pupuk ini telah dimanfaatkan untuk mendukung lahan pertanian di Nusakambangan sekaligus dipasarkan kepada masyarakat, sehingga memberikan nilai tambah secara ekonomi," ujar Kalapas Batu.
Kunjungan ke fasilitas pengolahan pupuk organik tersebut semakin menegaskan bahwa transformasi Nusakambangan tidak hanya berfokus pada aspek keamanan pemasyarakatan, tetapi juga berkembang sebagai kawasan pembinaan yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan. Melalui pemanfaatan sumber daya lokal serta pemberdayaan warga binaan, berbagai program yang dikembangkan di Nusakambangan terus memberikan kontribusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan, ekonomi sirkular, dan pembangunan nasional.
“Berbagai masukan dan evaluasi dari Komisi IV DPR RI akan kami jadikan bahan evaluasi untuk memperkuat program yang telah berjalan, termasuk upaya-upaya perbaikan yang diperlukan”, jelasnya.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, rombongan juga meninjau Balai Latihan Kerja (BLK) Pengolahan Pupuk Organik Nusakambangan yang berada di bawah koordinasi Lapas Kelas I Batu Nusakambangan. Di lokasi ini, Ketua Komisi IV DPR RI bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan melihat secara langsung proses pengolahan limbah organik menjadi pupuk yang memiliki nilai ekonomis sekaligus mendukung keberlanjutan program ketahanan pangan di kawasan Nusakambangan.
Pupuk organik yang diproduksi memanfaatkan limbah organik dari berbagai aktivitas pertanian, peternakan, serta pengolahan hasil pangan di kawasan Nusakambangan. Melalui proses fermentasi dan pengolahan yang terstandar, pupuk tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian di Nusakambangan, sekaligus dipasarkan kepada masyarakat dan instansi sebagai bentuk optimalisasi hasil pembinaan kemandirian warga binaan.
.jpeg)